Skripsi dan Hamil Anak Pertama
Tahun 1987 saat saat terakhir menyelesaikan Pendidikan Sarjana di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan UIN (Universitas Islam Negeri). Hari itu saat sidang skripsi dengan pakaian hijau bermotif bunga merah muda perempuan muda yang sedang hamil tua anak pertama mempertanggungjawabkan tulisan skripsinya dihadapan setiap penguji yang ada. Sistem ujiannya adalah harus melewati setiap penguji di dalam ruangan. Di depan meja masing-masing penguji sudah disiapkan kursi untuk yang akan ujian.
Didampingi suami tercinta, ujian skripsi berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti.
Judul skripsi perempuan muda nan cantik itu "Keteladanan Fathimah Azzahra". Salah satu penguji mengatakan, "kelak jika anakmu lahir dan perempuan, beri dia nama Fathimah Azzahra, seperti tulisan skripsimu".
Setelah ujian skripsi selesai, mengadakan acara makan bersama dengan teman teman sejawat.
Beberapa minggu sebelum perkiraan lahir, perempuan muda itu kembali ke kampugnya di Ujung Loe Salebba Bulukumba untuk menunggu hari kelahiran sang buah hati, di antar oleh suami. Dengan mobil plat kuning dari Barru ke Bulukumba.
Dalam perjalanan ada insident yang tidak terduga. Saat mobil singgah di SPBU untuk membeli bensin, sang suami pergi ke toilet. Tanpa sang istri sadari kalau suaminya tidak ikut bersama karena tertinggal oleh mobil. Spontan memberi tahu sopor "teman saya tidak ada di belakang, singgah tadi di toilet waktu di SPBU" . Mobil itu kembali, tetapi belum sampai di SPBU tadi, berpapasan mobil yang ditumpangi sang suami.
Saat sampai di Bulukumba, beberapa hari kemudian sang suami kembali ke perantauan dan tinggallah ang istri bersama orangtua dan keluarganya.
Benar saja 20 Maret 1987 hari Selas, anak pertamanya lahir perempuan dan diberi nama Fathima Azzahra. Malam sebelum lahirnya, sang suami datang ke Bulukumba karena memiliki firasat kalau anak pertamanya akan lahir. Tanpa ada komunikasi sebelumnya.
Karena pada zaman itu telphon bahkan handphone sangat lah langkah. Hanya orang orang yang berada yang memilikinya. Mereka yang dari keluarga biasa tidak memiliki barang seperti itu.
Komentar
Posting Komentar