Anak ke Dua Mama Bapak
Lima tahun sejak lahor anak pertama, anak kedua yang tidak kalah ditunggunya akhirnya diberikan. Meskipun setelah dua kali mengalami keguguran, akhirnya saat mengetahui ada bayi kedua dalam perut Mama, Bapak sejak saat itu menggantikan semua tugas Mama, mulai dari mengambil air dengam cara menimba di sumur milik orang lain, mencuci pakaian mulai sarung pakaian yang dikencingi, pergi ke pasar (senin dan jumat) yang sudah ada rute pasti jika ke pasar untuk membeli ikan sayur lammang dan kue lainnya.
Mama saat mengandung anak kedua tidak dibiarkan mengerjakan apapun, karena ditakutkan terjadi hal seperti dua sebelumnya.
Karena sebelum hamil keempat ini, saat hamil kedua dan ketiga Mama selalu merasa kuat bahkaHn menjolok mangga sendiridan akhirnya keguguran. Dan hal itu sangat dihindari oleh Bapak dan juga Mama tentunya.
Sampai pada suatu ketika, saat mama menghadiri acara di rumah tetangga, salah sagu orang menyuruh mama mengambilkan pattumbu (cobekan/ulekan terbuat dari batu) sontak saja langsung ada yang mengatakan dengan bahasa bugis,
"aja mu suro i mama na i ima marangka, apa' bapak na i ima tuh natteangngi, de' gaga tuh na jama ri bolana"
Seperti pada kehamilan Mama yang pertama, saat menjelang melahirkan Mama pasti pulang kampung diantar sama Bapak. Persis sama seperti lima tahun lalau Bapak hanya mengantar dan kembali setelah firasat lahirnya anaknya, akan kembali ke Bulukumba.
Ada kejadian yang terjadi saat akan ke Bulukumba, mama bapak dan juga anak pertamanya Ima menuju ke Terminal Mallengkeri untuk menunggu mobil ke Bulukumba. Saat menunggu Bapak ke BTN untuk melihat rumah di Minasa Upa untuk dibeli. Tetapi sementara transaksi, di terminal Mama dan Ima menunggu Bapak yang tak kunjung datang, akhirnya karena lagi lagi tidak ada komunikasi Mama dan Ima duluan ke Bulukumba tanpa serta Bapak.
Saat Bapak kembali ke Terminal dan tidak menemukan Mama dan Ima, berinisiatif untuk ke Bulukumba dan akhirnya bertemu disana.
Bulan April 1992 Bapal kembali ke Bulukumba, hari Selasa Magrib saat Bapak sholat magrib anak perempuan kedua lahir tepat tanggal 14. Dengan dibantu oleh Oannang (Mamanya Mama) yang memang seorang Bidan.
Hal mengejutkan terjadi, saat Pangeccing mengangkat bayi mungil itu ke dulang, tidak ada bunyi pecahan suara yang dikeluarkan, semua menjadi panik. Hingga beberapa menit kemudian barulah bagi itu bersuara. Ternyata tali pusarnya terlilit di bagian lehernya. Setelah dilepaskan barulah menangks kencang. Dan semua orang kembali tersenyum.
Nama anak perempuan Mama dan Bapak, bernama Nurfadilah. Cahaya Keutamaan.
Mama saat mengandung anak kedua tidak dibiarkan mengerjakan apapun, karena ditakutkan terjadi hal seperti dua sebelumnya.
Karena sebelum hamil keempat ini, saat hamil kedua dan ketiga Mama selalu merasa kuat bahkaHn menjolok mangga sendiridan akhirnya keguguran. Dan hal itu sangat dihindari oleh Bapak dan juga Mama tentunya.
Sampai pada suatu ketika, saat mama menghadiri acara di rumah tetangga, salah sagu orang menyuruh mama mengambilkan pattumbu (cobekan/ulekan terbuat dari batu) sontak saja langsung ada yang mengatakan dengan bahasa bugis,
"aja mu suro i mama na i ima marangka, apa' bapak na i ima tuh natteangngi, de' gaga tuh na jama ri bolana"
Seperti pada kehamilan Mama yang pertama, saat menjelang melahirkan Mama pasti pulang kampung diantar sama Bapak. Persis sama seperti lima tahun lalau Bapak hanya mengantar dan kembali setelah firasat lahirnya anaknya, akan kembali ke Bulukumba.
Ada kejadian yang terjadi saat akan ke Bulukumba, mama bapak dan juga anak pertamanya Ima menuju ke Terminal Mallengkeri untuk menunggu mobil ke Bulukumba. Saat menunggu Bapak ke BTN untuk melihat rumah di Minasa Upa untuk dibeli. Tetapi sementara transaksi, di terminal Mama dan Ima menunggu Bapak yang tak kunjung datang, akhirnya karena lagi lagi tidak ada komunikasi Mama dan Ima duluan ke Bulukumba tanpa serta Bapak.
Saat Bapak kembali ke Terminal dan tidak menemukan Mama dan Ima, berinisiatif untuk ke Bulukumba dan akhirnya bertemu disana.
Bulan April 1992 Bapal kembali ke Bulukumba, hari Selasa Magrib saat Bapak sholat magrib anak perempuan kedua lahir tepat tanggal 14. Dengan dibantu oleh Oannang (Mamanya Mama) yang memang seorang Bidan.
Hal mengejutkan terjadi, saat Pangeccing mengangkat bayi mungil itu ke dulang, tidak ada bunyi pecahan suara yang dikeluarkan, semua menjadi panik. Hingga beberapa menit kemudian barulah bagi itu bersuara. Ternyata tali pusarnya terlilit di bagian lehernya. Setelah dilepaskan barulah menangks kencang. Dan semua orang kembali tersenyum.
Nama anak perempuan Mama dan Bapak, bernama Nurfadilah. Cahaya Keutamaan.
Komentar
Posting Komentar